Dunia dihebohkan dengan kabar kematian Razan al Najjar, seorang perawat Palestina yang tewas ditembak oleh sniper Israel. Parahnya, ketika ditembak, Najjar kala itu masih memakai rompi medis dan bertugas di medan konflik. Kala itu ia sedang mencoba membantu pengunjuk rasa yang terluka di perbatasan Gaza. Niat Najjar ternyata mengantarkannya pada maut, dua dan tiga peluru tajam menembus dadanya. Ia meninggal dunia di tempat. Penembakan tenaga medis inipun menggemparkan dunia, karena sebenarnya bertentangan dengan hukum internasional mengenai perang. Berikut 7 fakta tentang Razan al Najjar dilansir dari berbagai sumber :
1. Najjar orang Palestina ke-119 yang tewas

Najjar adalah orang Palestina ke-119 yang tewas semenjak peristiwa protes yang dimulai sejak 30 Maret lalu atau yang dikenal dengan sebutan Great Return March. Kematian Najjar adalah kematian satu-satunya yang terdaftar pada hari Jumat, dan hal ini diiyakan oleh salah seorang juru bicara militer Israel, Letnam Kolonel Jonathan Conricus.
2. Bertugas selama 13 jam ditempat konflik

Semenjak bergabung sebagai relawan sejak 30 Maret 2018, Najjar hampir setiap hari bertugas 13 jam untuk membantu dan mengobati warga sipil yang terluka.
"Kami melakukan ini karena mencintai negara kami. Ini pekerjaan kemanusiaan," kata Najjar dikutip dari Times.
3. Memberikan pernyataan sebelum tewas

Sebelum tewas tertembak oleh sniper Israel, Najjar sempat memberikan pernyataan saat diwawancara oleh majalah Times. Menurutnya wanita terutama wanita Palestina harus memiliki peran lebih kepada negara.
"Perempuan dalam masyarakat kita dihakimi, dipandang sebelah mata. Tapi mereka harus menerima kami karena kami memiliki kekuatan yang lebih dari siapa pun," ucap Najjar.
4. Seragam 'berdarah'

Menurut pihak keluarga, hampir setiap hari seragam yang dikenakan Najjar berlumuran darah. Ia biasa berangkat dengan seragam putih tapi setibanya di rumah seragam putihnya itu dipenuhi darah. Kali ini berbeda, kedua orang tuanya sangat bersedih karena putrinya itu tidak akan kembali untuk selamanya.
"Dia sering pulang dengan pakaian putih yang berubah jadi merah. Itu darah para korban yang dia tolong hari itu. Tapi merah kali ini adalah darahnya sendiri," kata Ashraf, ayah Najjar.
5. Pemakamannya dihadiri ribuan orang

Sebagai penduduk Khuzza, sebuah desa pertanian yang terletak di perbatasan Israel, Najjar tentu sudah biasa dengan serangan-serangan yang dilakukan oleh kedua belah pihak.
Oleh karena itu, semenjak dewasa Najjar sudah memiliki pandangan bahwa ingin menyelamatkan nyawa dan mengevakuasi para korban, Najjar juga ingin memberikan pesan ke dunia jika tanpa senjata kita semua bisa melakukan apa saja.
Ucapan inilah yang kemudian berdengung dikepala ayahnya, ia ingat betul bagaimana raut muka putrinya itu.
Kematiannya tentu meninggalkan duka bagi keluarga, kerabat serta rekan-rekan relawan medis, upacara pemakamannya pun dihadiri oleh ribuan orang. ( keepo.me )

0 Response to "Sederet Fakta Baru Dibalik Kematian Razan al Najjar, Perawat Cantik Berhati Malaikat yang Ditembak Sniper Israel"
Posting Komentar